
– Keluarga Soleh (33)
petugas keamanan rel ganda yang tewas ditembak orang tak dikenal (OTK)
pada Kamis (10/10), meminta polisi bisa bergerak cepat mengungkap kasus
tersebut.
Didampingi kuasa hukumnya, Budi Sekoriyanto, pihak keluarga
mengatakan siap memberikan keterangan – keterangan kepada polisi. Budi
sendiri menduga insiden itu dilakukan oleh aparat keamanan, apakah itu
TNI atau juga Polri.
“Indikasinya dari anggota itu salah satunya dari proyektil peluru
kaliber 38mm, dan diduga revolver. Itu biasa digunakan Polri. tapi tentu
belum bisa menyimpulkan, pelaku memang belum tertangkap,” katanya saat
memberikan keterangan pers di Semarang, Rabu (16/10/2013).
Sejauh ini, kata Budi, handphone korban juga belum ditemukan.
Indikasi pelaku itu aparat, kata Budi, juga dari keterangan saksi
Muhammad Wahyu Susanto (22) yang sempat melihat pelaku.
“Pelaku pakai sepatu PDH atau PDL. Korban memang sempat menangkap
pencuri bantalan rel kereta api, namun sejauh ini pelaku utama yang
diduga bernama Danu belum tertangkap,” lanjutnya.
Budi membeber, korban memang pernah mempunyai masalah dengan Polri
dan TNI. Untuk Polri itu terjadi sekira awal Oktober 2012, dengan Briptu
Ismoharto, anggota Direktorat Polisi Perairan Polda Jawa Tengah. Saat
itu terjadi salah paham di ujung gang, saat motor Ismoharto menabrak
korban dari belakang.
Saat itu oknum polisi itu justru marah – marah, memukul pakai helm
dan sempat menodongkan pistol. Kasus itu dibawa hingga ke Bidang Profesi
dan Pengamanan (Propam) Polda Jawa Tengah dan oknum polisi tersebut
dijatuhi hukuman disiplin.
Sementara kasus yang terkait dengan pekerjaan korban sebagai petugas
keamanan itu terjadi akhir Oktober 2012. Saat itu korban bermasalah
dengan seseorang bernama Iswadi, seorang anggota Angkatan Laut (AL) yang
berdinas di Jakarta.
“Iswadi itu tetangga korban. Masalahnya terkait uang, istilahnya
jatah uang keamanan proyek setempat. Jadi insiden penembakan ini ada
persitiwa – peristiwa yang mendahului, tapi apakah ini berkaitan atau
tidak, tentu polisi yang bisa mengungkapnya. Kami siap membantu
memberikan keterangan – keterangan,” jelasnya.
Sementara saksi pada kejadian itu, Muhammad Wahyu Susanto (22) warga
Kebonharjo RT1/RW6, Kecamatan Semarang Utara, mengaku saat kejadian
sebetulnya sedang bersama lima orang, termasuk korban. Namun tiga
lainnya pergi buang air kecil saat penembakan terjadi.
“Pelakunya itu nembak kaca dulu, baru nembak korban. Sempat saya
kejar, tapi tidak tertangkap. Korban jatuh di depan rumah dan
meninggal,” tambahnya.
Terpisah, Kapolrestabes Semarang, Komisaris Besar Djihartono mengatakan sejauh ini tersangka penembakan belum ditangkap.
“Masih dalam penyelidikan. Konflik – konflik sebelumnya tentu jadi
pertimbangan, korban pernah ada konflik dengan siapa saja. Tentu jadi
penyelidikan,” timpalnya.
Sebelumnya diberitakan, Soleh tewas setelah peluru menembus ginjal
kirinya. Akibat penembakan itu, Soleh menderita pendarahan hebat, roboh
hingga akhirnya tewas di depan rumahnya.
Pelaku yang berciri – ciri mengenakan helm, berjaket, menggunakan
ransel dipakai di depan, dan menggunakan sepeda motor, sempat dua kali
menembak. Tapi satu tembakan lain meleset, menembus kaca dan menancap
tembok.
Hasil uji Laboratorium Forensik, peluru itu kaliber 38 mm ditembakkan
dari senpi jenis pistol revolver. Korban tewas di depan rumahnya, di
Kampung Kebonharjo Gg Garuda RT05/RW06 nomor 46, Kelurahan Tanjungmas,
Kecamatan Semarang Utara.